Indonesia Bukan Negara Creative

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring di sini. Kreatif adalah “[1] memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; [2] bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg [kreatif] menghendaki kecerdasan dan imajinasi; ke•kre•a•tif•an n perihal kreatif.” Menyimak definisi tersebut, kita mungkin merasa tersanjung jika disebut sebagai orang kreatif. Namun, saat Indonesia disebut sebagai negara yang tidak […]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring di sini. Kreatif adalah “[1] memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; [2] bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg [kreatif] menghendaki kecerdasan dan imajinasi; ke•kre•a•tif•an n perihal kreatif.”

Menyimak definisi tersebut, kita mungkin merasa tersanjung jika disebut sebagai orang kreatif. Namun, saat Indonesia disebut sebagai negara yang tidak kreatif, apa komentar Anda? Kini istilah kreatif disandingkan pula dengan konsep ekonomi, hingga muncul istilah “creative economy”, atau ekonomi kreatif. Menurut UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) seperti dikutip pada buku “Creative Economy Report 2010” yang dirilis PBB, definisi ekonomi kreatif adalah sebagai berikut:

“The “creative economy” is an evolving concept based on creative assets potentially generating economic growth and development. ▪ It can foster income generation, job creation and export earnings while promoting social inclusion, cultural diversity and human development. ▪ It embraces economic, cultural and social aspects interacting with technology, intellectual property and tourism objectives. ▪ It is a set of knowledge-based economic activities with a development dimension and cross-cutting linkages at macro and micro levels to the overall economy. ▪ It is a feasible development option calling for innovative, multidisciplinary policy responses and interministerial action. ▪ At the heart of the creative economy are the creative industries.”



Klasifikasi Ekonomi Kreatif versi UNCTAD (sumber: Creative Economy Report 2010, PBB)


Harus diakui Indonesia memang tergolong negara yang belum kreatif. Kalau toh saat ini Indonesia dikenal sebagai negara berkembang yang relatif menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, itu lebih mengandalkan sumber daya alam. Eksploitasi sumber daya alam masih relatif dominan dibandingkan eksploitasi kreativitas dan inovasi sumber daya manusianya.

Indonesia dalam hubungan antara output ekonomi (PDB per kapita) dan Global Creativity Index

Seberapa kreatifkah Indonesia dibanding negara lain? Kita lihat peringkat Global Creativity Index yang dipublikasikan oleh Martin Prosperity Institute. Indonesia menempati peringkat 81 dari 82 negara. Posisi yang patut dijadikan cermin atau renungan bersama, terlepas dari metodologi pemeringkatannya. Berikut cuplikan peringkat sepuluh besar teratas dan negara-negara yang tergolong papan bawah dalam hal kreativitas.

Pengukuran Global Creativity Index (GCI) menggunakan tiga aspek yaitu Technology, Talent, dan Tolerance- sehingga disebut: “3 Ts of economic development”, yang ketiganya dihitung indeksnya berdasarkan variabel pengukurannya.  Technology Index menggunakan tiga variabel: (1) Global R&D investment yaitu belanja R&D sebagai persentase dari PDB, (2) Global researcher yaitu peneliti professional per satu juta orang penduduk, dan (3) Global innovation yaitu jumlah paten per kapita dari tahun 2001 sampai 2008. Untuk aspek teknologi ini, Indonesia menempati posisi ke-74 dari 75 negara yang bisa dihitung Technology Index-nya.

Aspek Talent diukur dengan dua variable, yaitu (1) Human Capital dengan ukuran persentase warga negara yang masuk pendidikan tinggi sesuai data dari UNESCO, dan (2) Creative Class population, yaitu porsi tenaga kerja beberapa sektor atau profesi yang menuntut pemecahan masalah yang relatif tinggi.  Indonesia menempati peringkat ke-80 dari 82 yang bisa dihitung nilai Talent Index-nya. Kreativitas memang bertumpu pada orang-orang yang dianggap “berbakat”. Mengacu ke metodologi pada pemeringkatan GCI ini, orang berbakat itu berasal dari orang berpendidikan dan pekerja profesional.

Aspek terakhir, yaitu Tolerance, diukur berdasarkan polling atau survey oleh Gallup Organization’s World Poll. Dua pertanyaan yang dijadikan indikator perhitungan tolerance index adalah (1) “Is your city or area a good or bad place to be in for ethnic and racial minorities?” dan (2) “Is your city or area a good or bad place to be in for gay and lesbian people?”. Hmm, negara kreatif ternyata diukur dengan derajat toleransi terhadap kaum minoritas juga ya. Peringkat Indonesia khusus untuk aspek toleransi ini adalah ke-78 dari 81 negara. Apakah ini menggambarkan negara kita bukan negara yang toleran?

Indeks kreativitas tersebut berkorelasi dengan daya saing negara. Posisi Indonesia dalam daya saing global pun tidak lebih baik, yaitu menempati peringkat ke 46 dari 142 negara berdasarkan Global Competitiveness Report 2011-2012 yang dipublikasikan oleh World Economy Forum. Indeks kreativitas yang rendah tersebut selaras dengan  daya saing nasional, terutama pilar kesiapan teknologi dan pilar inovasi.

Kita tidak perlu berkecil hati atau malu dengan keterpurukan negeri ini. Kadang ketidakmampuan atau keterbelakangan bisa menjadi penyemangat agar kita bisa terus melangkah dengan lebih baik ke masa depan.

Apalagi tentang dunia blogger.. wkwk ga usah ditanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *