Indoensia Negara Paling Creative Tahun 2020

Keterbelakangan bangsa Indonesia tidak dari harta atau aset yang dimiliki, tetapi dari pola pikir. Selama ini bangsa kita menggunakan pola pikir yang keliru sebagai landasan berpikir yang menyebabkan pondasi berpikir juga keliru. Demikian  menurut M. Arief Budiman dalam acara Creative Giving yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2012 malam di DreamLab Building Petakumpet, Yogyakarta. Acara […]

Keterbelakangan bangsa Indonesia tidak dari harta atau aset yang dimiliki, tetapi dari pola pikir. Selama ini bangsa kita menggunakan pola pikir yang keliru sebagai landasan berpikir yang menyebabkan pondasi berpikir juga keliru. Demikian  menurut M. Arief Budiman dalam acara Creative Giving yang berlangsung pada tanggal 20 Mei 2012 malam di DreamLab Building Petakumpet, Yogyakarta. Acara yang merupakan hasil kerjasama antara Petakumpet, Akademi Berbagi, dan Wedangan ini merupakan rangkaian dari acara Berbagi Ide Segar yang sebelumnya telah dilaksanakan siang harinya.

Acara yang dijadwalkan mulai pada pukul 7 malam ini baru bisa berjalan hampir satu jam kemudian karena menunggu datangnya perangkat proyektor yang akan digunakan untuk presentasi. Sementara menunggu acara dimulai, para peserta yang sudah hadir mengambil tempat dan duduk berlesehan sambil menikmati minuman panas dan cemilan yang disediakan.

Dalam sebuah struktur, pondasi merupakan hal yang paling penting. Namun hal ini sering diabaikan atau malah dilupakan. Biasanya hal itu baru disadari ketika sudah terlambat. Hal ini bisa dilihat ketika terjadi gempa besar di Yogyakarta pada tahun 2006 yang menelan korban jiwa sekitar enam ribu orang dan hampir seratus ribu unit rumah rata dengan tanah. Penduduk yang rumahnya roboh baru menyadari pentingnya pondasi yang kokoh ketika melihat bahwa ada rumah yang masih bisa tetap berdiri.

Hal yang sama juga terjadi ketika krisis ekonomi melanda Asia pada periode 1998-1999. Dalam beberapa bulan sekitar 80% perusahaan yang ada di Asia bertumbangan. Hal ini juga karena perusahaan-perusahaan itu tidak memiliki pondasi yang kokoh saat membangun bisnis mereka.

Dengan mengemukakan kedua contoh tadi, Arief Budiman mengatakan bahwa untuk bisa sejajar dengan bangsa lain yang dibutuhkan adalah pondasi yang kuat. Pondasi, dalam hal ini adalah pola pikir. Bangsa kita sudah rusak sejak lama, selama dalam masa penjajahan pola pikir kita dirusak. Hal ini kemudian mengakar dan walaupun sudah merdeka, kita masih mengalami sindrom bangsa terjajah yang ciri-cirinya di antaranya adalah minder, berpikir kerdil, miskin inisiatif, mudah emosi, enggan maju, takut resiko, dan hanya ikut-ikutan.

Dengan dasar pemikiran itulah Arief Budiman melakukan program roadshow Berbagi Ide Segar ke 40 kota yang bertujuan untuk menemukan orang-orang besar yang bisa didukung. Arief Budiman menyatakan bahwa kita mempunyai orang-orang besar sekualitas Bunda Theresa dan Martin Luther King. Saat ini kita memiliki orang-orang besar seperti para Pengajar Muda di Indonesia Mengajar yang dikirim ke daerah-daerah terpencil di Indonesia untuk mengisi posisi sebagai guru Sekolah Dasar. Dalam sejarah kita juga tercatat orang-orang besar seperti Soekarno dan Jenderal Soedirman. Orang-orang yang berani mengambil resiko yang saat ini semakin langka.

Selanjutnya Arief Budiman mengatakan bahwa jika kita menginginkan sesuatu, dengan fokus ke tujuan yang ingin dicapai, keinginan itu pasti tercapai. Keberhasilan yang dicapai oleh Bill Gates dan Steve Jobs adalah buah dari keseriusan dan kefokusan mereka. Sejak dari muda mereka sudah memilih dan merintis jalan sebagai usaha untuk mencapai mimpi mereka. Mereka mengesampingkan hal-hal yang tidak mereka butuhkan. Hidup sesederhana dan seminimal mungkin. Selama bertahun-tahun, sampai saat meninggal, lingkungan Steve Jobs hanyalah kantor dan rumah. Steve Jobs sangat serius dengan pekerjaannya sampai mengorbankan waktu untuk berkumpul degan keluarganya dan melihat anak-anaknya bertumbuh. Semua itu dikorbankan demi upaya memberikan sesuatu yang berharga untuk umat manusia.

Perubahan terus terjadi. Oleh karenanya kita harus fokus supaya mampu untuk ikut bersaing. Kenyataan yang harus dihadapi saat ini bagi pelaku industri kreatif adalah usia pelaku industri kreatif yang semakin muda. Semakin banyak orang berusia awal 20 tahun yang sudah mencapai posisi Creative Director, bahkan Executive Creative Director.  Selain itu tipping point dunia online sebentar lagi tercapai, karenanya jika tidak segera terlibat dan mengambil bagian maka akan tertinggal; lini komunikasi semakin cair; siklus belajar yang semakin pendek dan egaliter; serta kenyataan kreativitas kita tidak kalah di tingkat dunia, namun wawasan kita yang kurang.

Arief Budiman kemudian memperlihatkan video kampanye “Microsoft Future Vision 2019” yang menggambarkan pencapaian teknologi pada tahun 2019. Setelah penayangan video itu Arief mengatakan bahwa cepat atau lambat perubahan akan datang. Pertanyaannya adalah ketika perubahan itu terjadi, posisi kita ada di mana. Apakah masih tetap sebagai penonton dan konsumen saja, atau sebagai agen perubahan itu?

Video kampanye yang dibuat oleh Microsoft itu adalah untuk memvisualisasikan mimpi mereka dan menularkan mimpi itu sehingga kemudian menjadi mimpi bersama. Dengan bermimpi bersama akan terasa lebih mudah usaha untuk merealisasikannya. Oleh karena itu, Arief Budiman juga membuat kampanye untuk menjadikan Indonesia sebagai negara paling kreatif di dunia tahun 2020. Mengajak semua untuk bermimpi bersama dan bekerja keras untuk merealisasikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *