7 Mitos dan Fakta Tentang Edukasi Seks

Setiap anak muda mempunyai hak guna mendapatkan edukasi seks secara akurat dan seimbang, tergolong informasi mengenai alat kontrasepsi, contohnya kondom. Lengkapi dengan penjelasan tentang pelayanan kesehatan yang profesional, seks yang aman, dan sebagainya. Jangan hingga hak tersebut terabaikan, karena kita lebih percaya mitos. Inilah sejumlah mitos tentang edukasi seks yang masih merongrong mayoritas masyarakat. Mitos […]

Hasil gambar untuk 5 Alasan Kenapa Anak Perlu Pendidikan Seks


Setiap anak muda mempunyai hak guna mendapatkan edukasi seks secara akurat dan seimbang, tergolong informasi mengenai alat kontrasepsi, contohnya kondom. Lengkapi dengan penjelasan tentang pelayanan kesehatan yang profesional, seks yang aman, dan sebagainya. Jangan hingga hak tersebut terabaikan, karena kita lebih percaya mitos. Inilah sejumlah mitos tentang edukasi seks yang masih merongrong mayoritas masyarakat. Mitos ini usahakan butuh diluruskan sampai-sampai generasi muda menemukan informasi yang tepat dan benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksual.

1. Mitos: Pendidikan seks melulu perlu diserahkan kepada orang yang inginkan menikah. Fakta: Berdasarkan keterangan dari sebuah penelitian, sikap seperti tersebut tidak akan menunda kegiatan seksual di kalangan remaja. Justru pemahaman yang paling sedikit dan keliru mengenai seksualitas memudahkan tidak sedikit remaja terjerumus ke dalam perilaku seks tidak sehat.

2. Mitos: Pendidikan seks mendorong semua pelajar menjadi aktif secara seksual. Fakta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengevaluasi 47 program di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Dalam 15 studi, edukasi seks dan HIV/AIDS menambah kegiatan seksual dan tingkat kehamilan serta infeksi menular seksual. Namun, 17 studi beda menunjukkan, edukasi seks dan HIV/AIDS menunda kegiatan seksual, meminimalisir jumlah pasangan seksual, pun mengurangi tingkat kejadian infeksi menular seksual dan kehamilan yang tak direncanakan.

3. Mitos: Mengajarkan perangkat kontrasepsi bakal mendorong semua pelajar aktif secara seksual dan menambah angka kehamilan pada remaja. Fakta: Para berpengalaman yang sudah mempelajari isu ini menyimpulkan, edukasi tentang seks dan HIV/AIDS yang komprehensif, tergolong program ketersediaan kondom, tidak menambah kegiatan seksual, tetapi malah efektif dalam meminimalisir perilaku seksual berisiko tinggi salah satu para remaja.

4. Mitos: Kerap terjadi kegagalan perangkat kontrasepsi sampai-sampai kita lebih baik mengajari semua remaja guna bersikap menghindarinya. Fakta: Kontrasepsi canggih sangatlah efektif, asalkan memilih jenis yang benar-benar sesuai dan dipakai secara benar. Rata-rata kehamilan pada wanita yang memakai suatu jenis pil selama 0,03 persen, sedangkan yang menggunakan kondom untuk wanita sekitar 21 persen, dan yang tanpa KB selama 85 persen. Bandingkanlah.

5. Mitos: Alat kontrasepsi tidak mencegah HIV dan infeksi menular seksual lainnya. Fakta: Memang melulu kondom yang menyerahkan perlindungan yang signifikan terhadap penularan infeksi seksual, tergolong HIV. Itu sebabnya semua remaja usahakan mendapat edukasi yang benar tentang kondom.

6. Mitos: Kondom mempunyai angka rata-rata kegagalan yang tinggi. Fakta: The National Institutes of Health (TNIH) menjelaskan, kondom paling efektif untuk mencegah penularan HIV dan menangkal kehamilan. TNIH pun melaporkan, studi laboratorium menunjukkan bahwa kondom dapat mencegah penyakit dampak infeksi menular seksual yang lain, laksana gonore, klamidia, dan trichomoniasis.

7. Mitos: Kondom tidak dapat mengayomi kita dari HPV (Human papillomavirus). Fakta: Kondom memang tidak dapat mencegah infeksi virus pada unsur tubuh yang tidak tertutup kondom. Namun, TNIH melaporkan, pemakaian kondom dapat meminimalisir risiko penyakit yang berhubungan dengan HPV, contohnya kanker serviks. Penyakit jenis ini dapat ditangkal dengan pemakaian kondom secara konsisten dan efektif, serta deteksi dini HPV melewati pemeriksaan pap smear.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *